Untung saya bukan seorang jenderal. Pertama, saya
memang tak punya potongan untuk jadi orang berpangkat.
"Potongan" adalah kata ganti untuk kompetensi, reputasi,
dan kredibilitas. Tak punya potongan, alias tanpa semua
kualitas itu, minder saya untuk menyandang pangkat dan
jabatan tertentu. Saya tak seberani Nurdin Halid, misalnya,
yang tetap merasa punya potongan memimpin PSSI
meski sudah masuk penjara.
Kedua, saya merasa beruntung bukan jenderal, karena
pasti akan bingung jika tiba-tiba ada yang datang ke kantor
dan tanpa ba-bi-bu ngasih sebuah rumah berlokasi di kawasan
elite Ibu Kota. Bingung, kok ya ada, sebuah rumah yang
harganya mungkin bisa untuk membangun sekitar
10 puskesmas itu diberikan cuma-cuma.
Jangan bertanya kenapa saya bingung, sedangkan Jenderal
Purnawirawan R. Hartono saja bisa enteng menerima
pemberian semacam itu dari seorang pengusaha
bernama Henry Leo. Tentu saja Pak Jenderal
menerimanya ketika dulu masih menjadi petinggi militer.
Bagaimana saya tidak bingung bin linglung, lha menurut
Pak Hartono yang pasti ahli strategi militer itu, pemberian
tersebut ternyata tidak diketahui maksudnya.
"Saya tak tahu apa maksud pemberian itu," katanya
seperti dikutip surat kabar. Bayangkan, rumah di kawasan
elite diberikan begitu saja seperti membagikan permen.
Dan, ehm, meski tak tahu maksudnya, Pak Hartono pun
menerima pemberian itu dengan ikhlas nan rela.
Saya bingung, barangkali karena saya orang kuno.
Waktu saya kecil, orang tua mengajarkan setiap
orang harus bekerja keras untuk mendapatkan
sesuatu. Bahkan untuk mendapatkan sepotong
permen, misalnya, waktu itu saya harus membantu
mengepel rumah. Jadi, kalau (misalnya) saya jenderal,
apakah yang harus saya pel untuk mendapatkan
sebuah rumah mewah?
Waktu kecil, pernah memang seorang teman memberi
permen agar saya tak mengadu ke orang tuanya.
Sebelumnya dia habis berantem di sekolah. Tapi
belakangan saya yang kena batunya dimarahi
Bapak setelah menceritakan itu kepada beliau.
"Itu namanya kamu telah disuap. Disogok!" hardiknya.
Sejak itulah saya tahu, suap tak hanya berkenaan
dengan kegiatan ibunda memberi asupan makanan
kepada adik bayi. Suap-menyuap juga merujuk pada
kegiatan ilegal. Pelakunya bisa macam-macam orang.
Yang disuapkan bukan pula susu atau bubur, melainkan
mulai permen, uang, hingga rumah mewah.
Motifnya bukan kasih sayang, melainkan mencuri
keuntungan sebesarnya.
Waduh, betapa rakusnya para pemburu keuntungan
haram itu. Lihat, tak hanya uang yang dirampas.
Bahkan makna kata suap pun ikut mereka rampok.
Bukankah semula "suap" mengisyaratkan pekerjaan
mulia karena merujuk pada aktivitas kasih sayang
ibu-anak?
Jika makna saja sudah dirampok, tak terbayangkan
kedigdayaan anggota komunitas suap ini. Pengawas
hakim saja bisa (dan bersedia) disuap, apalagi yang lain.
Lihat bupati ataupun gubernur disuap agar hutan bisa
dibalak secara liar. Ratusan triliun rupiah masuk kantong
sang cukong, dan sebagian kecilnya lalu di-icrit-icrit untuk
menyuap penegak hukum, pengambil keputusan,
hingga orang-orang yang mengaku wartawan.
Demikianlah lingkaran setan per-suap-an
menjadi langgeng adanya.
Kembali ke rumah R. Hartono, Pak Jenderal sudah
menyatakan pemberian itu bukan penyuapan. Toh,
rumah itu tetap diserahkannya juga ke Kejaksaan
Agung--setelah Henry Leo menjadi tersangka korupsi.
Tidak usah ditanyakan kenapa bukan dari dulu-dulu
ketika kasus Henry belum terungkap.
Oh ya, Kejaksaan Agung pun menyatakan pemberian
rumah itu bukan merupakan penyuapan. Ah, kalau begini,
saya menyesal, kenapa saya bukan seorang jenderal?
*) tulisan ini dimuat di Koran Tempo,
edisi Minggu 29 September 2007
Saturday, September 29, 2007
Monday, July 16, 2007
Surat Cinta kepada Ponaryo dkk
Pernahkan anda merasakan jatuh cinta lagi—dengan kualitas
dan getaran yang sama ketika pertama kali kasmaran dulu?
Saya sepertinya merasakan hal itu kembali saat di stadion
Gelora Bung Karno menonton tim nasional bertarung melawan
Arab Saudi Sabtu pekan lalu. Melihat gelagatnya, itulah juga
yang dirasakan 80 ribu penonton lain di dalam stadion.
Belakangan saya tahu, jutaan pecinta sepak bola tanah
air tertimpa ”nasib” serupa.
Ya, jatuh cinta massal nan akbar telah terjadi. Cinta
yang kembali bersemi kepada tim nasional sepak bola
sendiri. Tahun-tahun yang dirajam perasaan kering
dan tawar pada skuad nasional, mulai pupus. Dan
ketika cinta menuntut kerelaan, ribuan penonton
itu ikut berkeringat dan berdarah bersama para
pemain yang jatuh bangun di lapangan.
Saya tak tahu kapankan hal semacam ini terakhir
terjadi. Stadion bergetar. Sejak beberapa jam
sebelum kick off dan selama 90 menit sepanjang laga,
penonton terus bernyanyi.
Oooo, oooo/Ooo, Indonesia/Kuingin/Kita kan
menang/ Oooo-ooo...
Semangat dipompa maksimal. Yel-yel heroik
tak pernah putus berkumandang: Indonesia! Indonesia!
Dari tribun trimur kulayangkan pandangan ke
penjuru stadion. Lautan warna merah dan putih
menggelorakan stadion tua ini. Puluhan ribu jiwa
yang tengah tersedot pusaran energi cinta itu
terus bergerak. Melonjak-lonjak tanpa lelah.
Mereka mengibarkan bendera, atau memutar-
mutar gulungan kain merah ke udara. Lalu sesekali
menciptakan mexican wave yang sangat teatrikal.
Seluruh energi itu seolah hendak ditransfer ke
lapangan guna mengempos semangat perjuangan
para pemain kita. Tetapi benarkah ini semua cinta sejati?
Ujian itu terjadi pada masa injury time, ketika bola
sundulan Saad Al-Harthi menggetarkan jala gawang
Yandry Pitoy. Gol yang memenangkan Arab Saudi
itu terbukti tak menggerus cinta yang baru tumbuh.
Yel terus berkumandang sampai menit terakhir.
Bahkan hingga satu jam setelah pertandingan usai
ribuan penonton bertahan di dalam stadion. Mereka
terus bernyanyi. Meneriakan yel. Mengibarkan merah
putih. Dan ber-aplaus panjang untuk tim nasional.
Semangat ini masih terus terbawa hingga keluar stadion,
di jalan-jalan, ketika masing-masing pulang ke rumah.
Tumbuhnya cinta itu sejatinya tak lain karena
persembahan yang telah diberikan Ponaryo Astaman
dan kawan-kawan juga. Cara mereka bertarung
ketika mengalahkan Bahrain dan menghadapi Arab
Saudi telah membangkitkan hal yang selama ini
hilang: harga diri bangsa!
Mereka telah memberikan pelajaran langsung,
bahwa kehormatan tak bisa diraih dengan cara
instan. Anak-anak muda itu bersedia memberikan
segalanya, –darah dan air mata—, demi kebanggaan
bumi Pertiwi.
Itu sebabnya, masyarakat rela mewakilkan semua
impian atas harga diri bangsa kepada 11 pemain yang
bertarung di lapangan. Bersama tim Garuda masyarakat
merasa Bangsa ini masih layak dipertahankan—setelah
luluh lantak karena kekayaannya dikuras para
koruptor, pembalak liar, atau petualang-petualang
berkedok cerdik cendekia.
Kepada Eka Rhamdani dan kawan-kawan, khalayak
menemukan heronya, setelah tak mendapatkannya
pada para politisi yang berkeliaran di berbagai
panggung politik. Bahkan kepada para pemimpin
pun kepercayaan masyarakat sudah lama terkikis.
Corat-coret ini anggap saja sebuah surat cinta
kepada Ellie Eboy dan kawan-kawan atas pengabdian
mereka. Besok, saat melawan Korea Selatan, kita yakin,
semangat mereka tak berkurang seinci pun.
dan getaran yang sama ketika pertama kali kasmaran dulu?
Saya sepertinya merasakan hal itu kembali saat di stadion
Gelora Bung Karno menonton tim nasional bertarung melawan
Arab Saudi Sabtu pekan lalu. Melihat gelagatnya, itulah juga
yang dirasakan 80 ribu penonton lain di dalam stadion.
Belakangan saya tahu, jutaan pecinta sepak bola tanah
air tertimpa ”nasib” serupa.
Ya, jatuh cinta massal nan akbar telah terjadi. Cinta
yang kembali bersemi kepada tim nasional sepak bola
sendiri. Tahun-tahun yang dirajam perasaan kering
dan tawar pada skuad nasional, mulai pupus. Dan
ketika cinta menuntut kerelaan, ribuan penonton
itu ikut berkeringat dan berdarah bersama para
pemain yang jatuh bangun di lapangan.
Saya tak tahu kapankan hal semacam ini terakhir
terjadi. Stadion bergetar. Sejak beberapa jam
sebelum kick off dan selama 90 menit sepanjang laga,
penonton terus bernyanyi.
Oooo, oooo/Ooo, Indonesia/Kuingin/Kita kan
menang/ Oooo-ooo...
Semangat dipompa maksimal. Yel-yel heroik
tak pernah putus berkumandang: Indonesia! Indonesia!
Dari tribun trimur kulayangkan pandangan ke
penjuru stadion. Lautan warna merah dan putih
menggelorakan stadion tua ini. Puluhan ribu jiwa
yang tengah tersedot pusaran energi cinta itu
terus bergerak. Melonjak-lonjak tanpa lelah.
Mereka mengibarkan bendera, atau memutar-
mutar gulungan kain merah ke udara. Lalu sesekali
menciptakan mexican wave yang sangat teatrikal.
Seluruh energi itu seolah hendak ditransfer ke
lapangan guna mengempos semangat perjuangan
para pemain kita. Tetapi benarkah ini semua cinta sejati?
Ujian itu terjadi pada masa injury time, ketika bola
sundulan Saad Al-Harthi menggetarkan jala gawang
Yandry Pitoy. Gol yang memenangkan Arab Saudi
itu terbukti tak menggerus cinta yang baru tumbuh.
Yel terus berkumandang sampai menit terakhir.
Bahkan hingga satu jam setelah pertandingan usai
ribuan penonton bertahan di dalam stadion. Mereka
terus bernyanyi. Meneriakan yel. Mengibarkan merah
putih. Dan ber-aplaus panjang untuk tim nasional.
Semangat ini masih terus terbawa hingga keluar stadion,
di jalan-jalan, ketika masing-masing pulang ke rumah.
Tumbuhnya cinta itu sejatinya tak lain karena
persembahan yang telah diberikan Ponaryo Astaman
dan kawan-kawan juga. Cara mereka bertarung
ketika mengalahkan Bahrain dan menghadapi Arab
Saudi telah membangkitkan hal yang selama ini
hilang: harga diri bangsa!
Mereka telah memberikan pelajaran langsung,
bahwa kehormatan tak bisa diraih dengan cara
instan. Anak-anak muda itu bersedia memberikan
segalanya, –darah dan air mata—, demi kebanggaan
bumi Pertiwi.
Itu sebabnya, masyarakat rela mewakilkan semua
impian atas harga diri bangsa kepada 11 pemain yang
bertarung di lapangan. Bersama tim Garuda masyarakat
merasa Bangsa ini masih layak dipertahankan—setelah
luluh lantak karena kekayaannya dikuras para
koruptor, pembalak liar, atau petualang-petualang
berkedok cerdik cendekia.
Kepada Eka Rhamdani dan kawan-kawan, khalayak
menemukan heronya, setelah tak mendapatkannya
pada para politisi yang berkeliaran di berbagai
panggung politik. Bahkan kepada para pemimpin
pun kepercayaan masyarakat sudah lama terkikis.
Corat-coret ini anggap saja sebuah surat cinta
kepada Ellie Eboy dan kawan-kawan atas pengabdian
mereka. Besok, saat melawan Korea Selatan, kita yakin,
semangat mereka tak berkurang seinci pun.
Sunday, July 08, 2007
Angkringan Pilkada
Saya sangat suka melihat pose foto yang dimuat suratkabar ibukota itu.
Tiga pria berdiri berjajar dengan senyum lepas di bibir. Bagi warga
Jakarta, ketiganya merupakan sosok paling kondang di jagat politik
ibukota saat ini. Siapa lagi mereka kalau bukan Fauzi Bowo dan Adang
Daradjatun . Dan pria ketiga --dalam foto itu berdiri di tengah-- adalah
Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta.
Saya perlihatkan foto itu kepada Mas War yang tengah duduk di balik
gerobak angkringannya. ”Kompak, kan?” kataku sambil memesan segelas
teh jahe dan sebungkus sego (nasi) kucing. Bagaimana tidak kompak, Bang
Yos (sapaan Sutiyoso) ada di tengah, dengan kedua tangan mengait lengan
Bang Foke (pangglan Fauzi) dan Bang Adang. Dengan senyum di bibir,
sungguh tak terlihat aura persaingan antara Foke dan Adang yang tengah
mengincar kursi gubernur Jakarta itu.
Tapi respon mas War sungguh tak terduga. “Kalau di kampungku, gaya
seperti Bang Yos itu biasanya digunakan untuk memisah dua anak yang
lagi berantem, mas,” katanya cengengesan sambil mengangsurkan pesanan
saya.
”Hush!” kataku. ”Meski lagi bersaing berebut jabatan gubernur, ndak ada
itu perasaan bermusuhan apalagi saling benci. Ada-ada saja sampeyan ini.”
Lalu meluncurlah ceramah sok pintar dari mulut saya disela kesibukanku
mengunyah nasi putih berlauk sepotong kecil bandeng plus sambal itu.
Kataku, mereka ini bukan seperti kucing yang tengah berebut bandeng.
Mereka tidak saling mengintai untuk menjatuhkan—apalagi saling mencakar.
Mereka adalah pria terhormat: yang satu wakil gubernur, satunya mantan
Wakil Kepala Polri. ”Sego kucing sampeyan ini memang mak nyus, mas,” kataku
sambil menggigit bandeng. ”Tapi bapak-bapak itu bukan kucing yang kalau
berpolitik gemar main cakar-cakaran.”
”Lha itu apa, bos?” tanya mas War menunjuk tebaran spanduk di seberang
jalan. Ya, di bawah cahaya lampu mercury, memang kulihat berbagai spanduk
kampanye saling ”serang.”. Sebuah spanduk menyindir Foke yang mengusung
tema kampanye ”Serahkan pada Ahlinya.” Spanduk lainnya berlagak serupa,
cuma yang dikilik-kilik adalah Adang yang gencar berkampanye ”Ayo Benahi
Jakarta.”.
Saya berusaha menjelaskan bahwa maksud kedua kandidat baik. Mereka
berjanji akan membawa Jakarta lebih maju jika jadi gubernur. Saling sindir
itu cuma bumbu saja. ”Kalau Bang Foke menang, usaha angkringan
sampeyan ini, juga usaha sedulur-sedulur wong cilik lainnya, akan
dibina. Beliau, kan, ahlinya.”
Kuseruput teh-jahe hangat dulu, sebelum kuteruskan celotehku. ”Lha
kalau Bang Adang yang terpilih, dia akan membenahi semua infrsatruktur
yang memungkinkan usaha Mas War makin oke. Piye, mas, sip, kan?”
Aku berharap dia akan terkagum dengan pidato ngalor-ngidul ini.
Bukan itu maksudku bos, sela Mas War. Lalu dengan masih cengengesan
dia bertanya kenapa para calon pemimpin itu sudah rebutan kampanye,
padahal belum waktunya. ”Lha kalau belum jadi pemimpin saja sudah
ngakalin aturan, gimana kalau sudah naik?”
Hm, aku merasa kalau diskusi ala angkringan ini diteruskan, pasti bakal
dead-lock seperti perundingan Indonesia-Singapura itu. Sulit bagi saya
menjelaskan bahwa itu cuma sosialisasi—dan bukan kampanye.
Kalau dia bertanya, ”Lantas itu apa bedanya?” Pasti saya cuma bisa
cengengesan. Mending saya nikmati saja sego kucing plus tah jahe
hangat yang nyamleng ini.
Tiga pria berdiri berjajar dengan senyum lepas di bibir. Bagi warga
Jakarta, ketiganya merupakan sosok paling kondang di jagat politik
ibukota saat ini. Siapa lagi mereka kalau bukan Fauzi Bowo dan Adang
Daradjatun . Dan pria ketiga --dalam foto itu berdiri di tengah-- adalah
Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta.
Saya perlihatkan foto itu kepada Mas War yang tengah duduk di balik
gerobak angkringannya. ”Kompak, kan?” kataku sambil memesan segelas
teh jahe dan sebungkus sego (nasi) kucing. Bagaimana tidak kompak, Bang
Yos (sapaan Sutiyoso) ada di tengah, dengan kedua tangan mengait lengan
Bang Foke (pangglan Fauzi) dan Bang Adang. Dengan senyum di bibir,
sungguh tak terlihat aura persaingan antara Foke dan Adang yang tengah
mengincar kursi gubernur Jakarta itu.
Tapi respon mas War sungguh tak terduga. “Kalau di kampungku, gaya
seperti Bang Yos itu biasanya digunakan untuk memisah dua anak yang
lagi berantem, mas,” katanya cengengesan sambil mengangsurkan pesanan
saya.
”Hush!” kataku. ”Meski lagi bersaing berebut jabatan gubernur, ndak ada
itu perasaan bermusuhan apalagi saling benci. Ada-ada saja sampeyan ini.”
Lalu meluncurlah ceramah sok pintar dari mulut saya disela kesibukanku
mengunyah nasi putih berlauk sepotong kecil bandeng plus sambal itu.
Kataku, mereka ini bukan seperti kucing yang tengah berebut bandeng.
Mereka tidak saling mengintai untuk menjatuhkan—apalagi saling mencakar.
Mereka adalah pria terhormat: yang satu wakil gubernur, satunya mantan
Wakil Kepala Polri. ”Sego kucing sampeyan ini memang mak nyus, mas,” kataku
sambil menggigit bandeng. ”Tapi bapak-bapak itu bukan kucing yang kalau
berpolitik gemar main cakar-cakaran.”
”Lha itu apa, bos?” tanya mas War menunjuk tebaran spanduk di seberang
jalan. Ya, di bawah cahaya lampu mercury, memang kulihat berbagai spanduk
kampanye saling ”serang.”. Sebuah spanduk menyindir Foke yang mengusung
tema kampanye ”Serahkan pada Ahlinya.” Spanduk lainnya berlagak serupa,
cuma yang dikilik-kilik adalah Adang yang gencar berkampanye ”Ayo Benahi
Jakarta.”.
Saya berusaha menjelaskan bahwa maksud kedua kandidat baik. Mereka
berjanji akan membawa Jakarta lebih maju jika jadi gubernur. Saling sindir
itu cuma bumbu saja. ”Kalau Bang Foke menang, usaha angkringan
sampeyan ini, juga usaha sedulur-sedulur wong cilik lainnya, akan
dibina. Beliau, kan, ahlinya.”
Kuseruput teh-jahe hangat dulu, sebelum kuteruskan celotehku. ”Lha
kalau Bang Adang yang terpilih, dia akan membenahi semua infrsatruktur
yang memungkinkan usaha Mas War makin oke. Piye, mas, sip, kan?”
Aku berharap dia akan terkagum dengan pidato ngalor-ngidul ini.
Bukan itu maksudku bos, sela Mas War. Lalu dengan masih cengengesan
dia bertanya kenapa para calon pemimpin itu sudah rebutan kampanye,
padahal belum waktunya. ”Lha kalau belum jadi pemimpin saja sudah
ngakalin aturan, gimana kalau sudah naik?”
Hm, aku merasa kalau diskusi ala angkringan ini diteruskan, pasti bakal
dead-lock seperti perundingan Indonesia-Singapura itu. Sulit bagi saya
menjelaskan bahwa itu cuma sosialisasi—dan bukan kampanye.
Kalau dia bertanya, ”Lantas itu apa bedanya?” Pasti saya cuma bisa
cengengesan. Mending saya nikmati saja sego kucing plus tah jahe
hangat yang nyamleng ini.
Friday, April 27, 2007
SBY Takut Mencopot Yusril dan Hamid?
Apakah ukuran reshuffle kabinet yang akan dilakukan
Presiden SBY layak disambut baik—atau sebaliknya?
Sederhana sekali cara melihatnya. Yaitu, apakah SBY
berani mencopot Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza
Mahendra dan Menteri Kehakiman dan HAM Hamid
Awaluddin—selain mengganti menteri-menteri lain
yang sakit dan tidak berprestasi.
Kenapa?
Pemerintahan SBY, adalah pemerintah yang menjanjikan
akan memberangus praktik KKN, sejak dari kantornya sendiri.
Saya memahami hal itu tidak secara harafiah belaka. Selain
di kantor kepresidenan, KKN mestinya juga harus diganyan
sejak dari kalangan terdekatnya sndiri, yakni para menteri-
menterinya!
Yusril dan Hamid, seperti gencar diberitakan media,
terbelit conflict of interest dalam beberapa kasus.
Yusril mengijinkan penunjukan langsung pangadaan
mesin sidik jari di kantor Menteri Hukum dan Perundangan
senilai Rp 18,48 M saat ia pimpin. KPK yang sedang menyelidiki
kasus ini menduga ada mark up sekitar Rp 6 M.
Kedua menteri itu juga terlibat dalam pencairan duit
Tommy Soeharto di Bank Paribas Inggris. Kantor
pengacara milik Yusril, yakni Ihza&Ihza, ikut jadi
pemain kunci dalam kasus ini.
Dan, eloknya, Hamid Awaluddin menyediakan rekening
negara untuk menjadi penampungan duit itu. Mustahil,
Jenderal SBY tak melihat konflik kepentingan dalam kasus
ini.
Oh ya, Hamid juga sempat diperiksa sebagai saksi dalam kasus
korupsi di Komisi Pemilihan Umum, saat dia “mengabdi”
(mengabdi?) di sana sebagai Ketuanya.
Dalam sebuah acara talk show di SCTV, akhir April,
Yusril "dibantai" Deny Indryana. Dia dicecar soal etika pejabat
tinggi negara yang terlibat bisnis pribadi (tentu ini merujuk
keterlibatan kantor pengacara Yusril dalam pencairan duit
Tommy Soeharto—anak “mbahe” Orde Baru yang masih
sentausa dan tak terjerat hukum itu)
Yusril hanya bisa berkelit, bahwa keterlibatan Ihza dan Ihza
dalam pencairan dana Tomy, (juga kasus Gelora Senayan), tak
melanggar hukum positif. Yusril juga bilang bahwa pejabat negara
tak kehilangan hak perdatanya, termasuk untuk berbinis.
Ini sungguh mirip dengan kata-kata Soeharto yang berkomentar
tentang bisnis anak-anaknya dulu: Apa kalau sudah jadi anak
presiden tidak boleh berbinis?
Lalu terdengarlah oleh saya bisik-bisik itu. SBY
Akan mempertahankan Yusril dan Hamid Awaludin,
dalam kabinetnya. Alias, mereka akan lolos dari reshuffle.
Sebuah reshuffle, tanpa mengganti keduanya, hanya
menunjukkan SBY tak pernah serius membersihkan KKN
seperti yang dia janjikan akan dimulai dari kantornya sendiri.
Mari kita hitung kancing: apakah SBY benar-benar takut
mencopot mereka?
Presiden SBY layak disambut baik—atau sebaliknya?
Sederhana sekali cara melihatnya. Yaitu, apakah SBY
berani mencopot Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza
Mahendra dan Menteri Kehakiman dan HAM Hamid
Awaluddin—selain mengganti menteri-menteri lain
yang sakit dan tidak berprestasi.
Kenapa?
Pemerintahan SBY, adalah pemerintah yang menjanjikan
akan memberangus praktik KKN, sejak dari kantornya sendiri.
Saya memahami hal itu tidak secara harafiah belaka. Selain
di kantor kepresidenan, KKN mestinya juga harus diganyan
sejak dari kalangan terdekatnya sndiri, yakni para menteri-
menterinya!
Yusril dan Hamid, seperti gencar diberitakan media,
terbelit conflict of interest dalam beberapa kasus.
Yusril mengijinkan penunjukan langsung pangadaan
mesin sidik jari di kantor Menteri Hukum dan Perundangan
senilai Rp 18,48 M saat ia pimpin. KPK yang sedang menyelidiki
kasus ini menduga ada mark up sekitar Rp 6 M.
Kedua menteri itu juga terlibat dalam pencairan duit
Tommy Soeharto di Bank Paribas Inggris. Kantor
pengacara milik Yusril, yakni Ihza&Ihza, ikut jadi
pemain kunci dalam kasus ini.
Dan, eloknya, Hamid Awaluddin menyediakan rekening
negara untuk menjadi penampungan duit itu. Mustahil,
Jenderal SBY tak melihat konflik kepentingan dalam kasus
ini.
Oh ya, Hamid juga sempat diperiksa sebagai saksi dalam kasus
korupsi di Komisi Pemilihan Umum, saat dia “mengabdi”
(mengabdi?) di sana sebagai Ketuanya.
Dalam sebuah acara talk show di SCTV, akhir April,
Yusril "dibantai" Deny Indryana. Dia dicecar soal etika pejabat
tinggi negara yang terlibat bisnis pribadi (tentu ini merujuk
keterlibatan kantor pengacara Yusril dalam pencairan duit
Tommy Soeharto—anak “mbahe” Orde Baru yang masih
sentausa dan tak terjerat hukum itu)
Yusril hanya bisa berkelit, bahwa keterlibatan Ihza dan Ihza
dalam pencairan dana Tomy, (juga kasus Gelora Senayan), tak
melanggar hukum positif. Yusril juga bilang bahwa pejabat negara
tak kehilangan hak perdatanya, termasuk untuk berbinis.
Ini sungguh mirip dengan kata-kata Soeharto yang berkomentar
tentang bisnis anak-anaknya dulu: Apa kalau sudah jadi anak
presiden tidak boleh berbinis?
Lalu terdengarlah oleh saya bisik-bisik itu. SBY
Akan mempertahankan Yusril dan Hamid Awaludin,
dalam kabinetnya. Alias, mereka akan lolos dari reshuffle.
Sebuah reshuffle, tanpa mengganti keduanya, hanya
menunjukkan SBY tak pernah serius membersihkan KKN
seperti yang dia janjikan akan dimulai dari kantornya sendiri.
Mari kita hitung kancing: apakah SBY benar-benar takut
mencopot mereka?
Wednesday, March 21, 2007
Hamid Awaludin Masih Lenggang Kangkung
Satu lagi tersangka koruptor masuk bui.
Selasa, 20 April, Widjanarko Puspoyo, Direktur Utama Bulog
ditahan Kejaksaan Agung. Ia disangka melakukan tindakan
korupsi dalam kasus sapi impor fiktif yang merugikan negara
sebesar Rp 11 miliar.
Beberapa nama beken lain yang dalam waktu berdekatan
juga mengalmi nasib serupa adalah Suwarna, Gubernur
non aktif Kalimantan Timur.
Beberapa nama yang lebih beken, masih bisa lenggang
kangkung. Adalah Hamid Awaludin, Menteri Hukum dan
HAM, yang lagi disorot karena menyediakan rekening
kantornya untuk penampungan dana Tommy Soeharto
dari BNP Paribas. Jumlahnya sekitar Rp 10 Miliar.
Ini jelas tindakan melanggar hukum. Menteri Keuangan
Sri Mulyani tegas mengatakan semua rekening yang dibuat
departemen pemerintah harus sepengetahuan Menkeu.
Lagipula, tak lazim rekening departemen pemerintah
digunakan untuk menampung duit yang belum jelas
setatusnya, dari swasta lagi. Dari anak bekas penguasa
Orde Baru lagi!
Bagaimana mungkin kantor pemerintah bisa melakukan
hal semacam itu? Kemana dana itu mengalir, akhirnya?
Ada dimanakah logika dari cerita nan unik ini--atau
hal semacam ini hanya terjadi di negeri tercinta Indonesia,
dimana segala kemuskilan menjadi wajar-wajar saja?
Ada dimanakah Presiden Republik Indonesia hingga
tak terdengar komentarnya sepatah kata pun,
meski para pembantu utamanya melakukan berbagai
tindakan "unik"? (Oh Ya, cerita ini bermula dari Yusril
Ihza Mahendra yang ketika menjabat sebagai Menteri
Kehakiman menyatakan dana Tommy itu halal belaka)
Ada dimanakah komitmen sang presiden yang
katanya akan memberantas korupsi, dan dimulai
dari kantornya sendiri itu?
Anehkah kalau saya sudah kehabisan harapan terhadap
para pemimpin macam itu?
Selasa, 20 April, Widjanarko Puspoyo, Direktur Utama Bulog
ditahan Kejaksaan Agung. Ia disangka melakukan tindakan
korupsi dalam kasus sapi impor fiktif yang merugikan negara
sebesar Rp 11 miliar.
Beberapa nama beken lain yang dalam waktu berdekatan
juga mengalmi nasib serupa adalah Suwarna, Gubernur
non aktif Kalimantan Timur.
Beberapa nama yang lebih beken, masih bisa lenggang
kangkung. Adalah Hamid Awaludin, Menteri Hukum dan
HAM, yang lagi disorot karena menyediakan rekening
kantornya untuk penampungan dana Tommy Soeharto
dari BNP Paribas. Jumlahnya sekitar Rp 10 Miliar.
Ini jelas tindakan melanggar hukum. Menteri Keuangan
Sri Mulyani tegas mengatakan semua rekening yang dibuat
departemen pemerintah harus sepengetahuan Menkeu.
Lagipula, tak lazim rekening departemen pemerintah
digunakan untuk menampung duit yang belum jelas
setatusnya, dari swasta lagi. Dari anak bekas penguasa
Orde Baru lagi!
Bagaimana mungkin kantor pemerintah bisa melakukan
hal semacam itu? Kemana dana itu mengalir, akhirnya?
Ada dimanakah logika dari cerita nan unik ini--atau
hal semacam ini hanya terjadi di negeri tercinta Indonesia,
dimana segala kemuskilan menjadi wajar-wajar saja?
Ada dimanakah Presiden Republik Indonesia hingga
tak terdengar komentarnya sepatah kata pun,
meski para pembantu utamanya melakukan berbagai
tindakan "unik"? (Oh Ya, cerita ini bermula dari Yusril
Ihza Mahendra yang ketika menjabat sebagai Menteri
Kehakiman menyatakan dana Tommy itu halal belaka)
Ada dimanakah komitmen sang presiden yang
katanya akan memberantas korupsi, dan dimulai
dari kantornya sendiri itu?
Anehkah kalau saya sudah kehabisan harapan terhadap
para pemimpin macam itu?
Monday, March 12, 2007
Lik Sronto "Nalangin" Ical
Negeri macam apakah ini yang demikian "memanjakan"
seorang bernama Aburizal Bakrie alias Ical?
Mari kita mulai dari PT Lapindo Brantas, sebuah anak
perusahaan PT Energi Mega Persada, yang terkait
dengan Ical. Inilah perusahaan yang telah menyebabkan
lumpur penas menyembur di Porong, dan menyebabkan
ribuan jiwa tergebah dari kampung halamannya.
Jaringan infrastruktur juga rusak karenanya.
Seluruh kerugian mencapai lebih Rp 7 triliun!
Dan untuk memperbaiki kerusakan hebat itu,
pemerintah turun tangan menggerojokan
dana talangan. Uang siapa ini?
Tentu saja uang Pak Wiro, Yu Ginah, Kang Diro,
Lik Sronto, dan lain-lain sebagainya, yang sehari-hari
cuma jadi tukang patri di Pati, sopir angkutan di
Jumapolo, bakul pecel di gerbong-gerbong kereta
ekonomi jurusan Jakarta-Solo, dan sebagainya.
Merekalah yang kini menalangi segala kerugian
yang ditimbulkan oleh perusahaan yang terkait
dengan Pak Menteri yang tinggal di Menteng
dan tak sembarang orang boleh menjamah
pagarnya itu!
Mereka dipajeki, uangnya masuk anggaran,
lalu dicowok sebagian untuk nalangin kerusakan
akibat Lumpur Panas Lapindo!
Skor 1-0 untuk Ical.
Dan, eloknya, kini perusahaan Pak Menteri yang lain,
yakni PT Semesta Marga Raya yang dibawah Kelompok
Usaha Bakrie itu mendapat proyek senilai
Rp 1,38 Triliun untuk membangun tol Kanci-Pejagan.
Edan, tenan!
Kelompok Usaha yang salah satu perusahaannya
bermasalah kok dapet proyek raksasa!
Eloknya lagi, uang untuk membangun jalan tol
itu disalurkan oleh BNI dan BRI dalam bentuk
kredit. Sebagai wong ndeso, saya bertanya:
Jadi, modal apakah yang disediakan oleh
PT Semesta untuk mengerjakan ruas tol yang
kelak menjadi bagian dari Tol Jawa itu?
(geleng-geleng kepala mode: on)
Kini, 2-0.
Yu Ginah dan sak brayat sekalian,
inilah negeri kita. Inilah nasib kita.
Ojo kroso nelongso, amargo hanya itulah
yang baru bisa dibikin para pemimpin kita.
Di nurani mereka, tak terselip catetan tentang
nasib panjenengan sedoyo.
seorang bernama Aburizal Bakrie alias Ical?
Mari kita mulai dari PT Lapindo Brantas, sebuah anak
perusahaan PT Energi Mega Persada, yang terkait
dengan Ical. Inilah perusahaan yang telah menyebabkan
lumpur penas menyembur di Porong, dan menyebabkan
ribuan jiwa tergebah dari kampung halamannya.
Jaringan infrastruktur juga rusak karenanya.
Seluruh kerugian mencapai lebih Rp 7 triliun!
Dan untuk memperbaiki kerusakan hebat itu,
pemerintah turun tangan menggerojokan
dana talangan. Uang siapa ini?
Tentu saja uang Pak Wiro, Yu Ginah, Kang Diro,
Lik Sronto, dan lain-lain sebagainya, yang sehari-hari
cuma jadi tukang patri di Pati, sopir angkutan di
Jumapolo, bakul pecel di gerbong-gerbong kereta
ekonomi jurusan Jakarta-Solo, dan sebagainya.
Merekalah yang kini menalangi segala kerugian
yang ditimbulkan oleh perusahaan yang terkait
dengan Pak Menteri yang tinggal di Menteng
dan tak sembarang orang boleh menjamah
pagarnya itu!
Mereka dipajeki, uangnya masuk anggaran,
lalu dicowok sebagian untuk nalangin kerusakan
akibat Lumpur Panas Lapindo!
Skor 1-0 untuk Ical.
Dan, eloknya, kini perusahaan Pak Menteri yang lain,
yakni PT Semesta Marga Raya yang dibawah Kelompok
Usaha Bakrie itu mendapat proyek senilai
Rp 1,38 Triliun untuk membangun tol Kanci-Pejagan.
Edan, tenan!
Kelompok Usaha yang salah satu perusahaannya
bermasalah kok dapet proyek raksasa!
Eloknya lagi, uang untuk membangun jalan tol
itu disalurkan oleh BNI dan BRI dalam bentuk
kredit. Sebagai wong ndeso, saya bertanya:
Jadi, modal apakah yang disediakan oleh
PT Semesta untuk mengerjakan ruas tol yang
kelak menjadi bagian dari Tol Jawa itu?
(geleng-geleng kepala mode: on)
Kini, 2-0.
Yu Ginah dan sak brayat sekalian,
inilah negeri kita. Inilah nasib kita.
Ojo kroso nelongso, amargo hanya itulah
yang baru bisa dibikin para pemimpin kita.
Di nurani mereka, tak terselip catetan tentang
nasib panjenengan sedoyo.
Monday, March 05, 2007
Awas Si Lusi!
Sebuah gerakan sistematis mengganti istilah Lumpur
Lapindo menjadi Lumpur Sidoarjo (disingkat Lusi) sepertinya
tengah dilakukan.
Gampang ditebak, gerakan ini ingin menghilangkan citra
bahwa PT Lapindo Brantas adalah biang kerok dari petaka
semburan lumpur panas dari sumur Banjar Panji-1 yang
telah menggebah 25 ribu keluarga dari 13 desa itu.
Jangan heran, salah satu eksponen gerakan itu adalah
Tim Nasional Penanggulangan Lumpur, yang mestinya
berpihak pada rakyat. Lewat buletin bulanan, Tim ini
gencar mempopulerkan istilah Lusi--langsung maupun
tidak langsung. Buletin bulanan itu diberi nama: Media
Center Lusi.
Pengacara Lapindo, Trimoleja D Soerjadi, juga emoh
penggunaan Lumpur Lapindo. Kata dia, istilah itu
mengasumsikan bahwa Lapindo bersalah--padahal
secara hukum belum pernah terbukti.
Celakanya, beberapa media nasional, entah dengan
alasan apa, juga memilih menggunakan istilah Lusi.
Bersambung....:-)
Lapindo menjadi Lumpur Sidoarjo (disingkat Lusi) sepertinya
tengah dilakukan.
Gampang ditebak, gerakan ini ingin menghilangkan citra
bahwa PT Lapindo Brantas adalah biang kerok dari petaka
semburan lumpur panas dari sumur Banjar Panji-1 yang
telah menggebah 25 ribu keluarga dari 13 desa itu.
Jangan heran, salah satu eksponen gerakan itu adalah
Tim Nasional Penanggulangan Lumpur, yang mestinya
berpihak pada rakyat. Lewat buletin bulanan, Tim ini
gencar mempopulerkan istilah Lusi--langsung maupun
tidak langsung. Buletin bulanan itu diberi nama: Media
Center Lusi.
Pengacara Lapindo, Trimoleja D Soerjadi, juga emoh
penggunaan Lumpur Lapindo. Kata dia, istilah itu
mengasumsikan bahwa Lapindo bersalah--padahal
secara hukum belum pernah terbukti.
Celakanya, beberapa media nasional, entah dengan
alasan apa, juga memilih menggunakan istilah Lusi.
Bersambung....:-)
Friday, March 02, 2007
Mimpi Si Sofyan
Sofyan Djalil, Menteri Komunikasi dan Informatika, itu
bikin pernyataan ganjil. Dia tak suka dengan acara parodi
bertajuk Newsdotcom, Rapublik Mimpi, di Metro TV.
Katanya,"Kalau presiden diolok-olok, mau kemana negeri ini?"
Lalu dia mengancam akan melayangkan somasi.
Ganjil, karena cara berpikir seperti itu, bahwa penguasa
tak dapat dikritik, hanya berlaku di jaman yang telah
lewat. Zaman Orde Baru!
Sofyan tampaknya sedang bermimpi, bahwa ia masih
hidup di era seperti itu.
Atau ia tengah bermimpi bahwa dengan jurus mengambil
hati macam itu bakal dapat menyelamatkannya dari
kemungkinan di-reshufle presiden?
Orang seperti ini benar-benar tak layak menjadi pejabat
di jaman yang telah berubah ini.
Bangun pak Menteri,
matahari telah tinggi.
bikin pernyataan ganjil. Dia tak suka dengan acara parodi
bertajuk Newsdotcom, Rapublik Mimpi, di Metro TV.
Katanya,"Kalau presiden diolok-olok, mau kemana negeri ini?"
Lalu dia mengancam akan melayangkan somasi.
Ganjil, karena cara berpikir seperti itu, bahwa penguasa
tak dapat dikritik, hanya berlaku di jaman yang telah
lewat. Zaman Orde Baru!
Sofyan tampaknya sedang bermimpi, bahwa ia masih
hidup di era seperti itu.
Atau ia tengah bermimpi bahwa dengan jurus mengambil
hati macam itu bakal dapat menyelamatkannya dari
kemungkinan di-reshufle presiden?
Orang seperti ini benar-benar tak layak menjadi pejabat
di jaman yang telah berubah ini.
Bangun pak Menteri,
matahari telah tinggi.
Thursday, March 01, 2007
Musim
awan berarak di serat kaca
lalai menarik tirai
selingkuh semalaman
engkaulah musim
yang menandai kesetiaan
pada tetes hujan
juga sisa kemarau
sedang di tepi
rembulan menanti.
26/02/07
lalai menarik tirai
selingkuh semalaman
engkaulah musim
yang menandai kesetiaan
pada tetes hujan
juga sisa kemarau
sedang di tepi
rembulan menanti.
26/02/07
Setelah 2,5 Bulan
Dua bulan tanpa catatan, dan ternyata banyak hal telah
terjadi. Banyak hal? Sebenarnya cuma sedikit, sebab
semua peristiwa itu dapat diringkas menjadi satu
pengertian saja: T R A G E D I.
Ya, tragedi, dengan huruf kapital, dan setiap aksara
disela satu spasi.
Di titik pergantian tahun, ratusan jiwa serentak menjumpai
sang khaliq lewat sejenis ironi. Sebuah pesawat menghunjam
laut. Sebuah kapal tenggelam.
Lalu ibu kota menuai petaka akibat kebebalan para pemimpin-
nya. Banjir bandang menenggelamkan lebih 50% wilayahnya.
Saat itu, apakah gunanya puluhan mall dan square yang telah
dibangun dan merampok ratusan hektar lahan serapan air?
Sebuah pesawat kembali menunjukan kerentaanya --dan
kecongkakan mesin bisnis dibelakangnya--, sebelum sebuah
kapal terbakar (lagi).
Setelah 2,5 bulan tanpa catatan, banyak yang telah terjadi.
Dan, pada saat yang sama, tak banyak yang sudah dilakukan
para pemimpin itu.
terjadi. Banyak hal? Sebenarnya cuma sedikit, sebab
semua peristiwa itu dapat diringkas menjadi satu
pengertian saja: T R A G E D I.
Ya, tragedi, dengan huruf kapital, dan setiap aksara
disela satu spasi.
Di titik pergantian tahun, ratusan jiwa serentak menjumpai
sang khaliq lewat sejenis ironi. Sebuah pesawat menghunjam
laut. Sebuah kapal tenggelam.
Lalu ibu kota menuai petaka akibat kebebalan para pemimpin-
nya. Banjir bandang menenggelamkan lebih 50% wilayahnya.
Saat itu, apakah gunanya puluhan mall dan square yang telah
dibangun dan merampok ratusan hektar lahan serapan air?
Sebuah pesawat kembali menunjukan kerentaanya --dan
kecongkakan mesin bisnis dibelakangnya--, sebelum sebuah
kapal terbakar (lagi).
Setelah 2,5 bulan tanpa catatan, banyak yang telah terjadi.
Dan, pada saat yang sama, tak banyak yang sudah dilakukan
para pemimpin itu.
Thursday, December 07, 2006
Solilokui Roti Bakar
Nek mung sekedar roti bakar, mungkin ora pati ngawu-awu.
Pun jika roti bakar kuwi dihidangkan oleh "Roti Bakar Edy"
sing wis kondang sak nJakarta. Setangkup roti tawar
denganberbagai pilihan isian: selai nanas, coklat, lan
sak piturute, jelas marai ngiler.
Hananging nek mung nggo keplek ilat thok,
entuk-entuke yo mung wareg. Tapi, jika roti bakar
itu disantap sebagai pengantar menggali kenangan,
bahkan, merekatkan kembali sejenis ikatan sosial
yang disebut pertemanan, engkau akan tahu wareg
hanyalah sekedar ubo rampe. Luwih penting lan mitayani
inggih puniko: taksih wonten ingkang kasebat
kekerabatan wonten ing kitho ageng jejuluk
nJakarta meniko.
Di Jakarta, engkau paham benar, waktu seperti
mencekal cambuk. Sedikit telat men-ceklek kartu absen,
konditemu akan direduksi pada akhir bulan. Seperempat
jam alpa menemui kolega, bisnis besar miliaran
rupiah bakal lolos di bawah batang hidungmu. Telat
1/2 jam membuka pintu rumah setelah hari kerja,
sepasang mata akan me-mencerengimu menuntut
penjelasan.
Di ibu kota inilah waktu kadang-kadang menjadi
viagra dalam menjalani rutinitas: kita tak pernah
bersabar lagi dengan orang lain . Di jalanan, kita
tak akan pernah memberi ruang pada mobil, motor,
atau pejalan kaki yang permisi minta jalan. Di bus
kota yang penuh, mungkin kita JUSTRU akan
menyalahkan seorang ibu dengan bayi dalam
gendongan yang tak kebagian tempat duduk: "Sudah
tahu bus kota selalu penuh, kok nekat pergi bawa anak,"
demikian pikir kita suatu saat.
Jakarta, poro sederek, alon-alon waton kelakon, tanpo
kroso Betoro Kolo ngrikiti menopo ingkang rikolo
semanten tiyang sepuh lan poro leluhur tansah paring
atur ngunandiko: "le, cah bagus, cah ayu, tansah eling-
elingono, sejatine kito ora iso urip tanpo ananing liyan.
Zaman wis mesthi ngglindhing tanpo kendhat.
Nanging yo le, yo ndhuk, yo, kowe kabeh kudu
iso ngeli tanpa keli. Tansah iso angon mongso, lan
pungkasane memayu hayunging bawono."
"Inggih mbah," jawabku khusuk, ketika itu, seraya
mengamati tungkai embah yang kian keriput digerus
zaman. Sore-sore tintrim. Sandyakalaning dusun
Ngoro-Tengah. Wit mlinjo ing latar katon tentrem
soko lincak iki. Embah terus nyedot rokok kawunge.
Paningalipun katon dawah wonten wuwungan
limasan....
Barangkali demi mencoba nguri-uri dawuhe poro
leluhur meniko, suatu malam aku memutuskan
membelah three in one Jakarta, meninggalkan
sejenak bahan liputan di mejaku, juga segelas kopi,
untuk menemui para sahabat dari masa silam.
Dan, disanalah danang, aris, arif, jeki, indria, tomo,
agus,hendy, juga seorang rekan yang diajak arif, telah
berkumpul meninggalkan beban dan rutinitas hariannya.
Kami memutuskan melawan kerkahan betoro kolo
Jakarta untuk sekedar mengingat: pernah di suatu
masa, kami menjalani hari-hari yang mengesankan.
Saat kekerabatan demikian kental--sekental kopi
yang kutinggal di meja, dan dengan demikian mengantar
kami menjadi seperti saat ini.
Sebuah masa lalu yang teramat mahal untuk
digadaikan pada cambuk waktu! "Eh, sopo sing
wingi nang milis semangat banget janji arep teko, tapi kok
saiki ra ketok? Hehehehe...," sebuah celetukan menyelinap
disela roti bakar dan dendang "Yen Ing Tawang Ono
Lintang" seorang pengamen. Kami hanya tersenyum.
No problem.
Malam merambat tua. Kami memutuskan untuk
segera mengambil jeda. Jeda, karena kami yakin tak
ingin memutus kekerabatan ini hanya karena cengekraman
waktu--atau apa pun namanya. Kekerabatan memang tak
hanya, dan harus, dibangun lewat ketemuan-ketemuan.
Tegur sapa lewat cara apa pun pastilahlebih berharga
ketimbang tidak sama sekali. Tetapi ketemuan, ibarat
baterai, akan membuatku terus menyala dan
menyadari: masihada sekian sahabat di sana.
Aku lega dengan perolehan pikiran semacam itu.
Kuputar kunci kontak. Sejurus kemudian aku segera
tengelam di kegelapan jalanan bebas hambatan
menuju pingiran Jakarta. Kumasukan sebuah kaset
lawas kedalam tape recorder. Sebuah tembang
mengalun syahdu:
Sigramilir sang gethek sinangga bajul
Kawan dasa kang njageni
Hing ngarsa miwah hing pungkur
Tanapi hing kanan kering
Sang gethek lampahnya alon
Lalu aku terngiang tutur mbah di senja itu:
"Ingkang lumrah ing mangsa puniki, mapan guru
ingkang golek sabat, tuhu kuwalik karepe, kang
wus lumrah karuhun, jaman kuna mapan si murid,
ingkang pada ngupaya, kudu angguguru, ing mengko
iki tan nora, Kyai Guru naruthuk ngupaya murid,
dadiya kanthinira."
Di luar, hanya kegelapan jalan bebas hambatan yang kutemui.
Pun jika roti bakar kuwi dihidangkan oleh "Roti Bakar Edy"
sing wis kondang sak nJakarta. Setangkup roti tawar
denganberbagai pilihan isian: selai nanas, coklat, lan
sak piturute, jelas marai ngiler.
Hananging nek mung nggo keplek ilat thok,
entuk-entuke yo mung wareg. Tapi, jika roti bakar
itu disantap sebagai pengantar menggali kenangan,
bahkan, merekatkan kembali sejenis ikatan sosial
yang disebut pertemanan, engkau akan tahu wareg
hanyalah sekedar ubo rampe. Luwih penting lan mitayani
inggih puniko: taksih wonten ingkang kasebat
kekerabatan wonten ing kitho ageng jejuluk
nJakarta meniko.
Di Jakarta, engkau paham benar, waktu seperti
mencekal cambuk. Sedikit telat men-ceklek kartu absen,
konditemu akan direduksi pada akhir bulan. Seperempat
jam alpa menemui kolega, bisnis besar miliaran
rupiah bakal lolos di bawah batang hidungmu. Telat
1/2 jam membuka pintu rumah setelah hari kerja,
sepasang mata akan me-mencerengimu menuntut
penjelasan.
Di ibu kota inilah waktu kadang-kadang menjadi
viagra dalam menjalani rutinitas: kita tak pernah
bersabar lagi dengan orang lain . Di jalanan, kita
tak akan pernah memberi ruang pada mobil, motor,
atau pejalan kaki yang permisi minta jalan. Di bus
kota yang penuh, mungkin kita JUSTRU akan
menyalahkan seorang ibu dengan bayi dalam
gendongan yang tak kebagian tempat duduk: "Sudah
tahu bus kota selalu penuh, kok nekat pergi bawa anak,"
demikian pikir kita suatu saat.
Jakarta, poro sederek, alon-alon waton kelakon, tanpo
kroso Betoro Kolo ngrikiti menopo ingkang rikolo
semanten tiyang sepuh lan poro leluhur tansah paring
atur ngunandiko: "le, cah bagus, cah ayu, tansah eling-
elingono, sejatine kito ora iso urip tanpo ananing liyan.
Zaman wis mesthi ngglindhing tanpo kendhat.
Nanging yo le, yo ndhuk, yo, kowe kabeh kudu
iso ngeli tanpa keli. Tansah iso angon mongso, lan
pungkasane memayu hayunging bawono."
"Inggih mbah," jawabku khusuk, ketika itu, seraya
mengamati tungkai embah yang kian keriput digerus
zaman. Sore-sore tintrim. Sandyakalaning dusun
Ngoro-Tengah. Wit mlinjo ing latar katon tentrem
soko lincak iki. Embah terus nyedot rokok kawunge.
Paningalipun katon dawah wonten wuwungan
limasan....
Barangkali demi mencoba nguri-uri dawuhe poro
leluhur meniko, suatu malam aku memutuskan
membelah three in one Jakarta, meninggalkan
sejenak bahan liputan di mejaku, juga segelas kopi,
untuk menemui para sahabat dari masa silam.
Dan, disanalah danang, aris, arif, jeki, indria, tomo,
agus,hendy, juga seorang rekan yang diajak arif, telah
berkumpul meninggalkan beban dan rutinitas hariannya.
Kami memutuskan melawan kerkahan betoro kolo
Jakarta untuk sekedar mengingat: pernah di suatu
masa, kami menjalani hari-hari yang mengesankan.
Saat kekerabatan demikian kental--sekental kopi
yang kutinggal di meja, dan dengan demikian mengantar
kami menjadi seperti saat ini.
Sebuah masa lalu yang teramat mahal untuk
digadaikan pada cambuk waktu! "Eh, sopo sing
wingi nang milis semangat banget janji arep teko, tapi kok
saiki ra ketok? Hehehehe...," sebuah celetukan menyelinap
disela roti bakar dan dendang "Yen Ing Tawang Ono
Lintang" seorang pengamen. Kami hanya tersenyum.
No problem.
Malam merambat tua. Kami memutuskan untuk
segera mengambil jeda. Jeda, karena kami yakin tak
ingin memutus kekerabatan ini hanya karena cengekraman
waktu--atau apa pun namanya. Kekerabatan memang tak
hanya, dan harus, dibangun lewat ketemuan-ketemuan.
Tegur sapa lewat cara apa pun pastilahlebih berharga
ketimbang tidak sama sekali. Tetapi ketemuan, ibarat
baterai, akan membuatku terus menyala dan
menyadari: masihada sekian sahabat di sana.
Aku lega dengan perolehan pikiran semacam itu.
Kuputar kunci kontak. Sejurus kemudian aku segera
tengelam di kegelapan jalanan bebas hambatan
menuju pingiran Jakarta. Kumasukan sebuah kaset
lawas kedalam tape recorder. Sebuah tembang
mengalun syahdu:
Sigramilir sang gethek sinangga bajul
Kawan dasa kang njageni
Hing ngarsa miwah hing pungkur
Tanapi hing kanan kering
Sang gethek lampahnya alon
Lalu aku terngiang tutur mbah di senja itu:
"Ingkang lumrah ing mangsa puniki, mapan guru
ingkang golek sabat, tuhu kuwalik karepe, kang
wus lumrah karuhun, jaman kuna mapan si murid,
ingkang pada ngupaya, kudu angguguru, ing mengko
iki tan nora, Kyai Guru naruthuk ngupaya murid,
dadiya kanthinira."
Di luar, hanya kegelapan jalan bebas hambatan yang kutemui.
Thursday, October 12, 2006
Surat (14)
Pengantar:
Seorang kawan dari masa silam, dan yang terus berkelana
ke negeri-negeri yang jauh, tiba-tiba mengirimka surat untuk
anaknya, Kalam, lewat inbox-ku. Dia meminta aku untuk meneruskan
ke anak semata-wayangnya itu.
Kawan ini, sebut saja Old Bohemian, telah terpisah bertahun-
tahun dengan anak istrinya untuk sebuah alasan yang tak
bisa dipahami setiap orang.
Ramadhan, ternyata membikin dia tak kuasa
mebendung gelora rindunya pada keluarga.
Saya tak tahu lagi dimana keluarganya tinggal--dulu
mereka tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, di
lereng Gunung Lawu.
Untuk sekedar mengurangi rasa bersalah, kuposting
surat menggetarkan itu di sini--atas seizin dia.
=======================================
Kalam, anakku sayang,
Jika mungkin, ingin kuhapus kata ‘lebaran’ dari kenangan kita.
Aku hanya bisa merasakan betapa luka kian perih kau
tanggungkan, justru ketika saat khusuk itu selayaknya
menggetarkan pori-pori kita.
Dan, ampunkan bapakmu ini anakku, perjalanan tak pernah
mampu kutaklukan agar tersedia waktuku menemanimu menyimak
takbir dari masjid di kampung kita. Bahkan, ketika janji pernah
kuniscayakan kepadamu awal tahun ini. Janji yang kurapal
diam-diam dalam hatiku.
Perjalanan, anakku Kalam, telah menyimpangkan kepulanganku
saat itu, dan mendamparkanku ke Illinois. Kini, di sebuah masjid
kecil DeKalb, dengan--hanya—ratusan muslim dari penjuru bumi,
kami kembali mengenang kisah pengorbanan Ibrahim dan Ismail.
Engkau tahu, aku merasa bagai Ibrahim yang telah
mengorbankanmu--untuk hal yang entah sudahkah engkau
pahami?. Perjalanan ini, anakku, tak pernah untuk diriku sendiri.
Demikianlah, ‘rasa benar’ kuyakini ketika tangisku runtuh diam-
diam untukmu.
Di tengah hempasan angin dingin Illinois, ingin kuhangatkan hatiku
kedalam gema takbir. Dan, di tengah hamparan tanah pertanian
Midwest Amerika yang datar ini, kulafalkan kerinduanku pada tangis
kecilmu. Semampuku.
Ampunkan bapakmu, Kalam. Anakku sayang.
old bohemian
Seorang kawan dari masa silam, dan yang terus berkelana
ke negeri-negeri yang jauh, tiba-tiba mengirimka surat untuk
anaknya, Kalam, lewat inbox-ku. Dia meminta aku untuk meneruskan
ke anak semata-wayangnya itu.
Kawan ini, sebut saja Old Bohemian, telah terpisah bertahun-
tahun dengan anak istrinya untuk sebuah alasan yang tak
bisa dipahami setiap orang.
Ramadhan, ternyata membikin dia tak kuasa
mebendung gelora rindunya pada keluarga.
Saya tak tahu lagi dimana keluarganya tinggal--dulu
mereka tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, di
lereng Gunung Lawu.
Untuk sekedar mengurangi rasa bersalah, kuposting
surat menggetarkan itu di sini--atas seizin dia.
=======================================
Kalam, anakku sayang,
Jika mungkin, ingin kuhapus kata ‘lebaran’ dari kenangan kita.
Aku hanya bisa merasakan betapa luka kian perih kau
tanggungkan, justru ketika saat khusuk itu selayaknya
menggetarkan pori-pori kita.
Dan, ampunkan bapakmu ini anakku, perjalanan tak pernah
mampu kutaklukan agar tersedia waktuku menemanimu menyimak
takbir dari masjid di kampung kita. Bahkan, ketika janji pernah
kuniscayakan kepadamu awal tahun ini. Janji yang kurapal
diam-diam dalam hatiku.
Perjalanan, anakku Kalam, telah menyimpangkan kepulanganku
saat itu, dan mendamparkanku ke Illinois. Kini, di sebuah masjid
kecil DeKalb, dengan--hanya—ratusan muslim dari penjuru bumi,
kami kembali mengenang kisah pengorbanan Ibrahim dan Ismail.
Engkau tahu, aku merasa bagai Ibrahim yang telah
mengorbankanmu--untuk hal yang entah sudahkah engkau
pahami?. Perjalanan ini, anakku, tak pernah untuk diriku sendiri.
Demikianlah, ‘rasa benar’ kuyakini ketika tangisku runtuh diam-
diam untukmu.
Di tengah hempasan angin dingin Illinois, ingin kuhangatkan hatiku
kedalam gema takbir. Dan, di tengah hamparan tanah pertanian
Midwest Amerika yang datar ini, kulafalkan kerinduanku pada tangis
kecilmu. Semampuku.
Ampunkan bapakmu, Kalam. Anakku sayang.
old bohemian
Tuesday, October 10, 2006
Kematian Kedua Sang Presiden
Presiden Republik BBM telah mati untuk kedua kalinya.
Hari-hari ini, penonton Indosiar tak bisa lagi menikmati
penampilan Taufik Savalas sebagai Presiden Republik
Benar-Benar Mabok (BBM) di acara Ramadhan di Istana.
Tak ada lagi gaya bicara, gestur, dan cara berpakaian
Taufik yang mengingatkan kita pada Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY).
“Karena ada telepon dari Istana, (katanya) tidak boleh ada
‘penginaan’ terhadap presiden, maka acara Ramadhan di
Istana mohon pamit.” Selarik SMS itu masuk ke ponsel
saya menjelang tengah malam. Yang dimaksud “dari istana”
, adalah Istana Kepresidenan tempat SBY berkantor. Dia
juga menyebut nama sang penelepon—seseorang yang
dikenal dekat SBY.
Tetapi, ternyata acara –Ramadhan di Istana (RdI)-- yang
tayang setiap menjelang sahur itu tetap hadir. Hanya Taufik
tak lagi memerankan Presiden. Dikisahkan sang presiden
sedang safari ramadhan. Maka Taufik berganti
memerankan apa saja—selain presiden.
Saya mencari tahu pada seorang kawan di jajaran elit redaksi
Indosiar. Ia mengakui ada pihak luar yang menelepon pemilik
Indosiar, meminta agar acara RdI tak kritis pada SBY. Ia tak
menyebut siapa sang penelepon, tetapi jelas memiliki kekuasaan.
Buktinya “ancaman” itu dituruti. Presiden BBM absen.
Padahal, kata kawan ini, sejak awal tak ada skenario menghilangkan
peran presiden. “Seharusnya Presiden hadir sampai episode terakhir.”
Jika pengakuan di atas benar adanya, ini adalah kematian kedua
Presiden BBM. Sebelumnya acara Republik BBM juga tak diteruskan,
karena kasus serupa. Lalu acara itu pecah menjadi “Istana BBM”
(sebuah sitcom di Indosiar) dan (pemain) lainnya meneruskan ke
Metro TV dalam acara “Republik Mimpi: Newsdotcom”.
Kembali kita disadarkan, kekuasaan ternyata masih belum steril
dari sawab Orde Baru. Orde Baru belum benar-benar jadi
hantu. Secara fisik kita melihat perwakilannya pada beberapa
sosok di pemerintahan. Secara alam pikir, kita lebih banyak lagi
menyaksikan pada mereka yng kini tengah bancakan di sekitar
pusat kekuasaan.
Sawab itu adalah sikap anti kritik, dan menganggap citra presiden
bisa dijaga dengan membungkam kebebasan berekspresi. Sawab
yang memandang kritik sebagai “penginaan”. Sawab itu adalah
sejenis ancaman jika kritik tetap bandel dilakukan, silakan menerima
akibatnya (yang akan dirasakan secara langsung atau tak langsung).
Siapakah mereka ini yang gemar memelihara sawab masa
lalu itu? Apakah Andi Malarangeng, Dino Pati Jalal, Sudi Silalahi,
Hamid Awaludin, dan lain-lain dan sebagainya? Ataukah justru dia
yang ada di pusat kekuasaan sendiri: SBY dan JK?
Mungkin salah satu atau dua dari mereka. Mungkin juga bukan
mereka sama sekali. Tetapi "telepon sensor" telah dilakukan.
Dan, kita tahu, kekuasaan ini belum steril dari sawab Orba!
Hari-hari ini, penonton Indosiar tak bisa lagi menikmati
penampilan Taufik Savalas sebagai Presiden Republik
Benar-Benar Mabok (BBM) di acara Ramadhan di Istana.
Tak ada lagi gaya bicara, gestur, dan cara berpakaian
Taufik yang mengingatkan kita pada Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY).
“Karena ada telepon dari Istana, (katanya) tidak boleh ada
‘penginaan’ terhadap presiden, maka acara Ramadhan di
Istana mohon pamit.” Selarik SMS itu masuk ke ponsel
saya menjelang tengah malam. Yang dimaksud “dari istana”
, adalah Istana Kepresidenan tempat SBY berkantor. Dia
juga menyebut nama sang penelepon—seseorang yang
dikenal dekat SBY.
Tetapi, ternyata acara –Ramadhan di Istana (RdI)-- yang
tayang setiap menjelang sahur itu tetap hadir. Hanya Taufik
tak lagi memerankan Presiden. Dikisahkan sang presiden
sedang safari ramadhan. Maka Taufik berganti
memerankan apa saja—selain presiden.
Saya mencari tahu pada seorang kawan di jajaran elit redaksi
Indosiar. Ia mengakui ada pihak luar yang menelepon pemilik
Indosiar, meminta agar acara RdI tak kritis pada SBY. Ia tak
menyebut siapa sang penelepon, tetapi jelas memiliki kekuasaan.
Buktinya “ancaman” itu dituruti. Presiden BBM absen.
Padahal, kata kawan ini, sejak awal tak ada skenario menghilangkan
peran presiden. “Seharusnya Presiden hadir sampai episode terakhir.”
Jika pengakuan di atas benar adanya, ini adalah kematian kedua
Presiden BBM. Sebelumnya acara Republik BBM juga tak diteruskan,
karena kasus serupa. Lalu acara itu pecah menjadi “Istana BBM”
(sebuah sitcom di Indosiar) dan (pemain) lainnya meneruskan ke
Metro TV dalam acara “Republik Mimpi: Newsdotcom”.
Kembali kita disadarkan, kekuasaan ternyata masih belum steril
dari sawab Orde Baru. Orde Baru belum benar-benar jadi
hantu. Secara fisik kita melihat perwakilannya pada beberapa
sosok di pemerintahan. Secara alam pikir, kita lebih banyak lagi
menyaksikan pada mereka yng kini tengah bancakan di sekitar
pusat kekuasaan.
Sawab itu adalah sikap anti kritik, dan menganggap citra presiden
bisa dijaga dengan membungkam kebebasan berekspresi. Sawab
yang memandang kritik sebagai “penginaan”. Sawab itu adalah
sejenis ancaman jika kritik tetap bandel dilakukan, silakan menerima
akibatnya (yang akan dirasakan secara langsung atau tak langsung).
Siapakah mereka ini yang gemar memelihara sawab masa
lalu itu? Apakah Andi Malarangeng, Dino Pati Jalal, Sudi Silalahi,
Hamid Awaludin, dan lain-lain dan sebagainya? Ataukah justru dia
yang ada di pusat kekuasaan sendiri: SBY dan JK?
Mungkin salah satu atau dua dari mereka. Mungkin juga bukan
mereka sama sekali. Tetapi "telepon sensor" telah dilakukan.
Dan, kita tahu, kekuasaan ini belum steril dari sawab Orba!
Monday, October 09, 2006
Lagu Gagak
sepertinya engkau yang mengirimkan bayangan tembaga
pada air mataku. Sakitkah saat engkau selinapkan
selarik cahaya dari pucuk bambu, ketika seorang
penyair menangisimu, dan ilalang menusuk kenanganmu?
pernah kucoba mengajukmu, mendekati ujung cahayamu
malam segelap sayap hitamku, dan kudengar
pesanmu membenturbentur awan sendirian.
udara terkoyak.
dunia tak lagi sejati
dunia tak lagi sejati
dunia tak lagi sedaun
jati
sepertinya memang engkau yang biarkan mega
sepepat daun jati, kanakkanak merayapi mimpi,
melucuti kenanganku sendiri.
hingga semesta beku
hingga renjana ragu.
Sendiri
pada air mataku. Sakitkah saat engkau selinapkan
selarik cahaya dari pucuk bambu, ketika seorang
penyair menangisimu, dan ilalang menusuk kenanganmu?
pernah kucoba mengajukmu, mendekati ujung cahayamu
malam segelap sayap hitamku, dan kudengar
pesanmu membenturbentur awan sendirian.
udara terkoyak.
dunia tak lagi sejati
dunia tak lagi sejati
dunia tak lagi sedaun
jati
sepertinya memang engkau yang biarkan mega
sepepat daun jati, kanakkanak merayapi mimpi,
melucuti kenanganku sendiri.
hingga semesta beku
hingga renjana ragu.
Sendiri
Friday, October 06, 2006
Solilokui untuk Munir
“Munir kok dijadikan tokoh, kayak nggak ada yang lain saja.”
Engkau tahu Cak, siapakah yang mungkin mengeluarkan kata-kata
macam itu? Gerutuan itu melompat dari alat ucap para petinggi serdadu
setelah dari meja redekasi kami mendaulatmu menjadi
“Man of The Year 1998”. Waktu itu awal tahun 1999.
Kita tahu, demikianlah tentara. Seluruh eksistensinya
tergantung pada sebutir timah panas, dan bukan pada kemanusiaan.
Maka, sebuah penobatan yang mencederai “agama” mereka itu,
akan mereka taruh di seberang garis berlawanan.
Aku tak akan pernah melupakan malam itu, Cak—kali pertama
aku bertemu muka denganmu. Di sebuah koridor kampus, dimana
siang tadi sejumlah bunga bangsa gugur diterjang peluru, sisa darah
berceceran masih di depan gedung, dan sungguh menggetarkan, tak
ada bau amis di sana.
Tetapi kita terpana. Sekaleng selongsong peluru tajam berhasil
dikumpulkan para mahasiswa dari halaman kampus mereka!
Para serdadu itu, yang mengendap-endap di ketinggian jalan layang,
mungkin juga diatap-atap bangunan tinggi, rupanya telah memutuskan
akan membasmi anak-anak yang hanya ingin merawat hati nurani itu
dengan berondongan peluru tajam. Kita tahu, demikianlah tentara.
Kebanggaan mereka hanya tergantung pada sebutir peluru.
Saat itu aku mencoba menyelami ke kedalaman matamu.
Sebenarnya itu sesuatu yang sia-sia, karena keringat dan ketulusanmu
telah menemani mereka yang dihilangkan, malam dan siangmu
milik mereka yang terampas, senyum dan tangismu bersanding
dalam doa-doa mereka yang ditindas.
Lalu aku tahu engkau tak pernah beranjak dari posisi itu
ketika kekuasaan berganti, keculasan datang dan pergi,
dan tentara masih menggantungkan harga dirinya pada
sebutir peluru.
kalau takut pada teror, katamu suatu saat, itulah saatnya
kemenangan sang peneror.
Cak, aku tahu engkau bukan tak memiliki rasa takut
tetapi koyak-moyak negeri butuh lebih dari sekadar takluk
pada ketakutan. Sungguh tidak ada waktu untuk membeku
di bilik kamar.
dan engkau menolak takluk, hingga Sang Maha Kekasih
menjemputmu demikian indah.
Cak, maafkan aku belum sempat menunaikan janji
menemuimu---meski aku yakin engkau tak pernah menagih.
Selamat jalan, Cak
temanilah kami menjalani hari-hari yang penuh teror ini.
-----------------------------------
(Setelah Membaca HL Koran Tempo, Kamis 5 Oktober 2006 berjudul
Hakim: Polly Bukan Pembunuh Munir)
Engkau tahu Cak, siapakah yang mungkin mengeluarkan kata-kata
macam itu? Gerutuan itu melompat dari alat ucap para petinggi serdadu
setelah dari meja redekasi kami mendaulatmu menjadi
“Man of The Year 1998”. Waktu itu awal tahun 1999.
Kita tahu, demikianlah tentara. Seluruh eksistensinya
tergantung pada sebutir timah panas, dan bukan pada kemanusiaan.
Maka, sebuah penobatan yang mencederai “agama” mereka itu,
akan mereka taruh di seberang garis berlawanan.
Aku tak akan pernah melupakan malam itu, Cak—kali pertama
aku bertemu muka denganmu. Di sebuah koridor kampus, dimana
siang tadi sejumlah bunga bangsa gugur diterjang peluru, sisa darah
berceceran masih di depan gedung, dan sungguh menggetarkan, tak
ada bau amis di sana.
Tetapi kita terpana. Sekaleng selongsong peluru tajam berhasil
dikumpulkan para mahasiswa dari halaman kampus mereka!
Para serdadu itu, yang mengendap-endap di ketinggian jalan layang,
mungkin juga diatap-atap bangunan tinggi, rupanya telah memutuskan
akan membasmi anak-anak yang hanya ingin merawat hati nurani itu
dengan berondongan peluru tajam. Kita tahu, demikianlah tentara.
Kebanggaan mereka hanya tergantung pada sebutir peluru.
Saat itu aku mencoba menyelami ke kedalaman matamu.
Sebenarnya itu sesuatu yang sia-sia, karena keringat dan ketulusanmu
telah menemani mereka yang dihilangkan, malam dan siangmu
milik mereka yang terampas, senyum dan tangismu bersanding
dalam doa-doa mereka yang ditindas.
Lalu aku tahu engkau tak pernah beranjak dari posisi itu
ketika kekuasaan berganti, keculasan datang dan pergi,
dan tentara masih menggantungkan harga dirinya pada
sebutir peluru.
kalau takut pada teror, katamu suatu saat, itulah saatnya
kemenangan sang peneror.
Cak, aku tahu engkau bukan tak memiliki rasa takut
tetapi koyak-moyak negeri butuh lebih dari sekadar takluk
pada ketakutan. Sungguh tidak ada waktu untuk membeku
di bilik kamar.
dan engkau menolak takluk, hingga Sang Maha Kekasih
menjemputmu demikian indah.
Cak, maafkan aku belum sempat menunaikan janji
menemuimu---meski aku yakin engkau tak pernah menagih.
Selamat jalan, Cak
temanilah kami menjalani hari-hari yang penuh teror ini.
-----------------------------------
(Setelah Membaca HL Koran Tempo, Kamis 5 Oktober 2006 berjudul
Hakim: Polly Bukan Pembunuh Munir)
